Jepang,,poenYaa
Seperti halnya Indonesia, Jepang juga memiliki budaya, seni dan tradisi yang sangat banyak dan beragam. Jadi pada bagian ini saya hanya akan mencoba menuliskan budaya yang sudah umum dan dikenal secara luas khususnya oleh masyarakat negara luar. Beberapa diantaranya yang layak untuk ditulis adalah sebagai berikut :
--------------------
Ki dan Mono
--------------------
Jalan
Kalau kita perhatikan lebih jauh ternyata orang Jepang sangat suka memakai kata ini terutama untuk istilah yang berhubungan dengan olah pikiran. Upacara minum teh atau Chadō juga memakai huruf kanji yang sama pada akhiran katanya. Huruf kanji Dōjuga kadang di baca Tō seperti kata Shintō yang artinya sama saja yaitu jalan
Kuku - Menghafal Tabel Perkalian
Serba serbi makanan Jepang Dulu, beberapa belas tahun yang lalu, kalau mendengar kata "Masakan Jepang" image saya pasti terbayang pada makanan yang serba mentah. Perut langsung mual membayangkan bau amis pasar ikan. Namun setelah mengenal lebih dekat dan melihatnya secara langsung, ternyata image miring tentang makanan mentah ini harus direvisi ulang. Banyak info lain yang sepertinya harus ditambahkan yang sebelumnya kurang lengkap saya ketahui. Mentah berarti segar Untuk masalah kesegaran bahan makanan sepertinya adalah hal yang mutlak diperlukan. Mereka tidak mengenal bumbu bumbuan, jadi enaknya sebuah masakan sangat ditentukan oleh kesegaran bahan dasarnya. Segar kadang identik dengan kata mentah. Sushi atau sashimi adalah salah satu contohnya. Ikan yang segar tidak akan berbau, jadi kalau sudah berbau amis berarti sudah tidak bisa disebut segar jadi harus dimasak, dipanaskan atau dipanggang. Tentu saja sangat membingungkan, bukankah semua ikan berarti amis ? Mungkin Anda juga bingung ? Demikian juga dengan telor. Makanan seperti Sukiyaki dihidangkan bersama sebutir telor mentah. Tentu saja telor sangat berbahaya kalau dimakan mentah. Mereka sudah memiliki memiliki sejarah yang sangat penjang berurusan dengan makanan mentah semacam ini jadi sangat paham untuk menghindarinya. Telor yang dipakai pada masakan Sukiyaki ini umumnya adalah telor "khusus" jadi sedikit berbeda dengan telor yang umumnya. Secara umum, semua makanan tidak terkecuali telor sekalipun memiliki tanggal kedaluwarsa jadi khusus untuk telor yang akan dimakan mentah tentu saja memiliki aturannya yang lebih ketat lagi. Daging juga dimakan mentah ? Jawaban umumnya adalah tidak bisa. Daging tidak sama dengan ikan, jadi walau batapun segarnya adalah sangat berbahaya kalau dimakan mentah. Penyakit pada daging bisa masuk dengan mudah pada diri manusia yang memakannya. Namun walaupun begitu daging mentang bukannya tidak dikonsumsi sama sekali. Pada rumah makan tertentu kadang kita bisa menjumpai daging sapi yang dihidangkan mentah. Namun yang jelas bagian yang hanya terbatas pada bagian tubuh tertentu saja yang bisa dimanfaatkan. Daging lain yang juga bisa dimakan mentah (hanya pada bagian tubuh tertentu) adalah daging ayam dan daging kuda. Daging yang saya sebutkan terakhir hanya bisa ditemukan di daerah tertentu saja jadi sama sekali bukan termasuk makanan umum. Daging Ayam mentah juga jarang ditemukan jadi hanya pada warung tertentu saja. Khusus untuk daging babi, pada bagian manapun sama sekali tidak bisa dimakan mentah. Dimasak tanpa minyak Bagi kebanyakan orang Jepang, makanan bukan cuma urusan perut dan lidah semata namun juga tanpa melupakan unsur estetika, kesehatan atau bahkan unsur hiburan (enterteint). Unsur estetika ditunjukkan dengan penataan dan mendekorasi makanan yang hendak disajikan seindah dan semenarik mungkin. Ini adalah bagian tugas dasri seorang Food Coordinator. Pentingnya memilik peralatan ataupun keramik yang tepat melahirkan seni keramik yang sangat tinggi. Kemudian dari segi kesehatan tercermin dari minimnya penggunaan minyak goreng pada hampir setiap masakannya. Kecuali untuk masakan sejenis tempura dan keloke, hampir sebagian besar masakan mereka diolah tanpa menggunakan setetes minyak sama sekali. Daging sapi seharga 1 juta Makanan Jepang (kebanyakan) sangat simple dalam arti tidak memerlukan banyak olahan,campuran berbagai macam bumbu dan sejenisnya. Jadi kenikmatan suatu makanan semacam ini sangat ditentukan oleh kesegaran dan kualitas bahannya. Jadi tidak berlebihan kalau saya katakan proses memasak itu sendiri sebetulnya sudah dimulai saat sayuran itu ditanam sehingga menghasilkan mutu sayuran yang prima. Demikian juga dengan peternakan. Daging sapi dalam negeri yang disebut dengan Wagyu terkenal karena kelezatan. Tentu saja harganya sangat mahal bahkan mungkin tidak masuk akal bagi sebagian orang. Harga standar untuk daging sapi Jepang adalah 800 yen per gram yang kalau dirupiahkan adalah 80.000 rupiah per gram. Hah ? perkilo kali ? Ah, itu belum seberapa. Harga yang lebih mahal masih banyak tergantung merek daging, bagian tubung tertentu atau dari peternakan mana daging itu dihasilkan. Beberapa kali saya pernah melihat menu makanan yang terdiri dari beberapa potong daging sapi seharga 1 juta rupiah. Entah seperti apa rasanya. Jadi seseorang yang berencana untuk makan di warung yang khusus menyediakan menu Yakiniku (sapi panggang), minimal harus menyiapkan uang sekitar 300.000 rupiah untuk satu orang atau 1 juta untuk satu keluarga. Harga sejumlah itu sepertinya sudah sangat standard. Ikan air tawar bisa dimakan ? Awalnya saya sempat kaget ketika menjumpumpai banyak banyaknya besar berenang dengan bebasnya di hampir semua sungai atau kolam yang saya temui di negara tersebut. Beberapa diantaranya tampak kesulitan untuk bergerak karena saking besarnya. Apakah tidak ada orang yang menangkapnya dan menjadikannya sebagai lauk pauk ? Jawabannya adalah hampir tidak ada. Hal ini disebabkan karena umumnya orang Jepang sangat pemilih dengan makanan dan cendrung hanya mengkonsumsi ikan air laut saja dan hanya beberapa jenis tertentu dari ikan air tawar yang dikonsumsi. Ikan yang dipilih umumnya adalah ikan yang hidup di air jernih. Jadi lele atau ikan karper tentu tidak termasuk di dalamnya kecuali untuk beberapa daerah tertentu saja. Kadang saya juga menemukan segerombolan bebek liar yang berenang bebas tanpa ada rasa khawatir akan disate. Belut Belut adalah makanan yang sangat favorit di negara itu. Dagingnya selain enak juga dipercaya bagus untuk menjaga stamina. Harganya ? Tentu saja sangat mahal sehingga umumnya hanya dimakan pada kesempatan tertentu saja. Sedikit berbeda dengan belut sawah yang berukuran kecil dan hidup di dalam lumpur, belut yang dimaksud disini adalah belut besar berukuran setengah meter yang umumnya hidup di sungai atau kolam berair bersih. Disamping belut air tawar juga ada belut air laut. Kambing Daging kambing hanya umum dikonsumsi oleh penduduk Okinawa, di daerah selatan dari negara tersebut sedangkan daerah lain hampir tidak dijumpai. Jadi bagi Anda penggemar sate kambing, harus melupakan sejenak untuk menyantap makanan kegemaran Anda. Ikan paus dan lumba lumba Dari info yang pernah saya baca, ada daerah tertentu di Jepang yang pada bulan bulan tertentu mengkonsumsi ikan lumba lumba. Namun sepertinya kebiasaan ini bukanlah hal yang umum dijumpai. Sedangkan tentang ikan paus, mereka mempunyai sejarah yang panjang sebagai pengkonsumsi utama ikan besar ini. Saat ini makanan kegemaran jaman sejak purba ini sudah menjadi sangat eksxlusif dan sangat tidak mudah untuk ditemukan. Tukang masak berlisensi Jepang adalah negara kepulauan yang sangat kaya dengan berbagai jenis ikan. Hampir semua jenis ikan air laut mereka konsumsi tidak terkecuali untuk jenis ikan yang sangat beracun seperti ikan fugu misalnya. Beberapa jam setelah mengkonsumsi ikan maut ini, korban akan merasakan diri melayang karena saking enaknya sebelum akhirnya tewas. Walaupun berpotensi nyawa melayang, warung atau restoran yang menghidangkan masakan ikan berharga mahal, enak namun beracun ini tetap ramai dikunjungi. Tentu saja tukang masaknya harus bersertifikat khusus yang akhli dibidangnya.. Dimasak tanpa Bumbu Masakan Jepang tidak mengenal bumbu seperti yang umum kita pergunakan. Jadi praktis semua masakan mereka diolah tanpa "apa adanya". Hal inilah yang mungkin menyebabkan daging kambing atau bebek tidak populer di negara tersebut. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau daging kambing direbus tanpa bumbu. Sebagai gantinya mereka mengenal Syouyu semacam kecap asin namun dengan berbagai cita rasa. Selanjutnya ada juga souce (so-su) yang pasti sudah Anda ketahui. Namun yang paling utama sebagai pencipta rasa enak dalam masakan Jepang adalah kualitas dan kesegaran bahan bakunya. | |
Masak tanpa bumbu, bagaimana caranya ? Bagi orang Indonesia yang menetap di Jepang, pada awalnya pasti akan kesulitan untuk membuat masakan sendiri. Yeah, kesulitan terbesar pertama adalah menyiapkan bahan atau bumbunya. Hampir semua bumbu yang kita perlukan tidak tumbuh di negara subtropis tersebut maka nyaris semua bahan yang kita perlukan tidak tersedia di pasaran.Cabai hanya bisa tumbuh pada musim panas yang hanya berlangsung 4 bulan saja. Namun hal itu bukan berarti pada saat musim panas cabe mudah ditemukan, tetap saja sama susahnya kecuali kalau kita menanamnya sendiri dalam pot dan menaruhnya di teras rumah. Kunyit tumbuh subur dibagian selatan negara tersebut namun masalahnya harganya sangat mahal karena tidak umum dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Bawang merah mungkin bisa diganti dengan bawang bombay, namun harapan untuk mendapatkan kencur, kemiri, galagal, kelapa parut atau bahkan terasi harus dibuang jauh jauh. Jadi praktis hanya bawang putih dan jahe saja yang tersedia. Bumbu instan adalah jawabannya. Bumbu ini bisa dibeli di toko online yang khusus menjual produk makanan import dari Indonesia. Harganya tentu saja tidak murah. Namun kesulitan belum selesai. Untuk masakan sederhana seperti nasi goreng misalnya harus menggunakan beras yang asli bukan beras Jepang yang lebih layak disebut ketan. Alternatif terbaik adalah menggunakan beras Thailand yang berharga mahal tersebut. Alternatif yang lebih murah adalah menggunakan bumbu kering seperti yang mudah bisa ditemukan pada masakan India. Tentu saja rasanya akan sedikit berubah menjadi masakan Indonesia ala India. | |
Mahalnya harga beras di Jepang Secara umum harga barang apapun yang memiliki label Lokal (Jepang) umumnya lebih mahal daripada barang import tidak terkecuali untuk produk pertanian dan peternakan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, setiap hari ribuan ton bahan makanan ini didatangkan dari negara lain. Khusus untuk beras adalah perkecualian. Sayur, daging dan juga buah buahan boleh jadi mereka sangat tergantung pada barang import namun khusus untuk beras mereka bertekad untuk mandiri dan swasembada. Semua produk import untuk beras dikenakan pajak bea masuk yang sangat tinggi sehingga harganya menjadi mahal dan tidak kompetitif lagi. Dengan harga yang mahalpun sebisa mungkin mereka memilih untuk menkonsumsi produk negara sendiri, apalagi kalau kebalikannya jelas tidak akan ada orang yang membelinya. Saya membayangkan kalau seandainya terjadi kondisi luarbiasa seperti perang, embargo pangan atau sejenisnya, sepertinya masyarakat Jepang tetap akan bisa hidup karena setidaknya mereka masih memiliki cadangan makanan berupa beras. kaTa - Kata jepang
|







